Methylisothiazolinone (MI): Dilarang BPOM di Produk Tanpa Bilas
Ruam di bokong atau sekitar mulut anak yang tidak kunjung sembuh biasanya memancing tebakan yang sama: eksim, jamur, atau infeksi bakteri. Salep diganti berkali-kali, hasilnya tetap begitu-begitu saja. Jarang ada yang curiga pada benda yang dipakai membersihkan ruam itu setiap hari, yaitu tisu basah.
Salah satu penyebab yang sering terlewat adalah methylisothiazolinone, disingkat MI atau MIT. Bahan ini pengawet, dipakai supaya produk berbahan air tidak ditumbuhi bakteri dan jamur. Masalahnya, MI juga termasuk pemicu alergi kontak paling sering pada kulit manusia. American Contact Dermatitis Society menobatkannya sebagai "Allergen of the Year" pada 2013.
Indonesia kini punya aturan tegas soal bahan ini. Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik, yang ditetapkan pada 9 September 2025, hanya mengizinkan MI di sediaan bilas dengan kadar paling tinggi 0,0015 persen. Untuk sediaan yang tidak dibilas, lampiran peraturannya menulis MI "tidak boleh digunakan".
Dari Pengawet Pengganti Jadi Alergen Populer
MI sudah lama beredar sebagai pasangan dari pengawet lain, methylchloroisothiazolinone (MCI). Campuran MCI/MI dikenal sebagai pemicu alergi, jadi sejak pertengahan 2000-an produsen mulai memakai MI sendirian dengan harapan lebih ramah kulit. Karena daya awetnya lebih lemah tanpa pasangannya, kadar MI yang dipakai justru dinaikkan.
Hasilnya berbalik arah. Menurut laporan para dokter kulit di Eropa dan Amerika Utara, kasus alergi MI melonjak tajam pada awal 2010-an, sampai sejumlah klinik uji tempel menyebutnya epidemi. Uni Eropa kemudian melarang MI di produk kosmetik tanpa bilas mulai Februari 2017, termasuk tisu basah yang disebut secara eksplisit dalam aturannya. Pada 2018, batas untuk produk bilas diturunkan menjadi 0,0015 persen, angka yang juga dipakai di daftar pengawet ASEAN dan kini di peraturan BPOM.
Kenapa Tisu Basah Jadi Sumber Utama
Sebuah laporan di jurnal Pediatrics tahun 2014 oleh Chang dan Nakrani menggambarkan enam anak dengan ruam menahun di sekitar anus, bokong, dan wajah. Semuanya sudah diberi berbagai salep antibiotik, obat minum, dan kortikosteroid tanpa hasil. Tak satu pun dari mereka masih memakai popok. Benang merahnya ternyata tisu basah mengandung MI yang dipakai orang tua untuk membersihkan area yang sama.
Setelah tisu basah dihentikan, ruam keenam anak itu sembuh dengan cepat dan tuntas. Para peneliti mencatat bahwa alergi ini sering salah didiagnosis sebagai eksim, impetigo, atau psoriasis.
Pola ini masuk akal kalau dilihat dari cara pakainya. Tisu basah diusapkan ke kulit yang sedang meradang, tidak dibilas, lalu dipakai lagi beberapa kali sehari. Kulit yang lecet menyerap lebih banyak, dan setiap usapan berikutnya memperparah ruam yang sama.
Label "Lembut" Tidak Menjamin Bebas MI
Studi lain pada tahun yang sama, oleh Megan Schlichte dan Rajani Katta di Dermatology Research and Practice, memeriksa 152 produk yang dipasarkan khusus untuk bayi dan anak di dua jaringan toko besar di Amerika Serikat. Sebanyak 30 produk mengandung MI. Kategori dengan jumlah terbanyak adalah tisu wajah dan badan serta produk rambut.
Temuan yang paling relevan untuk orang tua: produk berlabel gentle, sensitive, organic, bahkan hypoallergenic sering tetap mengandung MI. Klaim di depan kemasan tidak bisa dijadikan pegangan. Yang bisa dipercaya hanya daftar komposisi di belakang.
Nama-Nama MI di Daftar Komposisi
Di label, MI jarang muncul dengan nama yang sama. Beberapa yang perlu dikenali:
1. Methylisothiazolinone (MI atau MIT) Nama INCI yang paling umum. Di produk kosmetik yang tidak dibilas, nama ini seharusnya sudah tidak ada.
2. Methylchloroisothiazolinone (MCI atau CMIT) Biasanya tercantum berdampingan dengan methylisothiazolinone. Menurut peraturan BPOM, campuran ini juga hanya boleh di sediaan bilas dengan kadar 0,0015 persen. Dalam dunia industri, campuran ini dikenal dengan nama dagang Kathon.
3. Benzisothiazolinone (BIT) dan Octylisothiazolinone (OIT) Kerabat satu golongan yang lebih sering ditemukan di produk rumah tangga, lem, dan cat. Anak yang sudah alergi MI kadang ikut bereaksi terhadap bahan-bahan ini, jadi dokter umumnya menyarankan menghindari seluruh golongan isothiazolinone.
Cara membaca komposisi secara umum sudah dibahas di panduan membaca label skincare bayi. Untuk gambaran pengawet lain yang lebih bersahabat, lihat pembahasan pengawet dalam skincare bayi dan phenoxyethanol.
Apa Artinya Aturan BPOM Baru untuk Orang Tua
Peraturan BPOM 25/2025 memberi pelaku usaha yang sudah memegang nomor notifikasi waktu 12 bulan untuk menyesuaikan formulanya. Artinya, stok lama dengan formula sebelum aturan berlaku masih mungkin ada di rak toko, gudang reseller, atau lemari rumah. Losion, krim, atau tisu basah kosmetik yang mencantumkan methylisothiazolinone di komposisinya lebih baik tidak dipakai untuk bayi.
Ada dua catatan yang sering membingungkan.
Pertama, sampo dan sabun mandi yang dibilas masih boleh memakai MI dalam kadar sangat rendah. Bagi kebanyakan anak, kadar ini dinilai aman oleh badan pengawas. Bagi anak yang sudah terbukti alergi, dokter biasanya tetap menyarankan produk bebas isothiazolinone sama sekali, karena kulit yang sudah peka bisa bereaksi pada kadar kecil.
Kedua, tidak semua tisu basah terdaftar sebagai kosmetik. Sebagian beredar dengan izin edar perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT) dari Kementerian Kesehatan, bukan nomor notifikasi BPOM. Apa pun izinnya, cara amannya sama: balik kemasannya dan cari nama-nama di atas. Tips memilih tisu basah secara umum ada di artikel tisu basah bayi.
MI di Luar Produk Perawatan Kulit
Aturan kosmetik tidak menjangkau produk rumah tangga. MI dan kerabatnya masih lazim dipakai di cat tembok berbasis air, sabun cuci piring, deterjen, pelembut pakaian, lem, dan slime.
Cat tembok layak diberi perhatian khusus. Madsen dan Andersen melaporkan di jurnal Contact Dermatitis (2014) kasus seorang anak yang lebih dulu peka terhadap MI dari tisu basah, lalu mengalami ruam di wajah akibat uap MI dari dinding yang baru dicat. Laporan serupa dari beberapa negara menunjukkan bahwa MI bisa menguap dari cat basah dan memicu ruam di kulit yang terbuka seperti wajah, leher, dan tangan, tanpa anak menyentuh dindingnya.
Kalau kamar anak akan dicat ulang, pastikan ruangan berventilasi baik dan anak tidur di kamar lain sampai bau cat hilang. Untuk anak yang sudah diketahui alergi MI, tanyakan ke toko atau produsen cat apakah tersedia varian tanpa isothiazolinone. Dampak cat baru pada kulit secara umum dibahas di artikel paparan VOC cat dinding, sedangkan kasus dari mainan ada di dermatitis kontak karena slime.
Tanda Anak Mungkin Alergi MI
Alergi kontak termasuk reaksi tipe lambat. Ruam biasanya muncul satu sampai tiga hari setelah kulit terpapar, sehingga hubungannya dengan produk sering tidak disadari. Beberapa pola yang patut dicurigai:
- Ruam merah, kering, gatal, kadang berair atau bersisik, persis di area yang rutin diusap tisu basah atau diolesi produk tertentu
- Ruam di sekitar anus dan bokong pada anak yang sudah lepas popok
- Ruam di wajah atau tangan yang kambuh setiap kali produk yang sama dipakai
- Ruam yang tidak membaik atau cepat kambuh meski sudah diberi salep eksim, antijamur, atau antibiotik
- Ruam wajah yang muncul setelah rumah atau kamar dicat
Pola ini mirip dengan alergi nikel dari kancing baju: lokasinya selalu mengikuti titik kontak.
Langkah yang Bisa Dilakukan di Rumah
1. Hentikan dulu produk yang dicurigai Ganti tisu basah dengan kapas atau kain lembut yang dibasahi air hangat, lalu tepuk kering. Untuk area popok, cara ini cukup untuk sebagian besar pembersihan sehari-hari.
2. Catat semua produk yang menyentuh kulit anak Foto daftar komposisi sabun, sampo, losion, krim popok, tisu basah, bahkan deterjen dan pelembut pakaian. Catatan ini sangat membantu dokter saat mencari pemicunya.
3. Jangan langsung mencoba produk pengganti yang baru semua sekaligus Kenalkan satu per satu dengan patch test sederhana, supaya kalau ruam muncul lagi, pelakunya jelas.
4. Periksakan ke dokter bila ruam tidak membaik Dokter spesialis dermatologi dapat melakukan uji tempel (patch test) dengan bahan alergen standar untuk memastikan apakah anak memang alergi MI. Kepastian ini penting, karena anak yang terbukti alergi perlu menghindari golongan isothiazolinone seterusnya, dan sebaliknya orang tua tidak perlu membuang semua produk kalau pemicunya ternyata bahan lain.
Segera bawa anak ke dokter bila ruam meluas dengan cepat, bernanah, disertai demam, atau muncul bengkak di wajah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah semua produk yang mengandung MI berbahaya untuk bayi? Tidak semua. MI di sampo atau sabun yang dibilas dengan kadar maksimal 0,0015 persen diizinkan karena kontaknya singkat. Risiko terbesar datang dari produk yang dibiarkan di kulit, seperti tisu basah, losion, dan krim, dan justru di produk jenis itulah MI sekarang dilarang BPOM.
Kalau tisu basah anak saya mengandung MI tapi kulitnya baik-baik saja, apakah harus dibuang? Alergi kontak bisa terbentuk setelah paparan berulang, jadi kulit yang hari ini tenang belum tentu tetap begitu. Karena bahan ini tidak lagi diizinkan di produk kosmetik tanpa bilas, beralih ke produk tanpa MI adalah langkah yang wajar.
Apakah alergi MI bisa hilang saat anak besar? Alergi kontak umumnya menetap. Kulit bisa tenang selama pemicunya dihindari, tetapi reaksi biasanya muncul lagi saat terpapar kembali. Karena itu kebiasaan membaca label perlu dibawa sampai anak dewasa, termasuk saat ia mulai memilih sabun dan sampo sendiri.
Produk berlabel "hypoallergenic" pasti bebas MI? Tidak pasti. Survei produk anak menemukan MI juga ada di produk berlabel hypoallergenic, sensitive, dan organic. Daftar komposisi tetap satu-satunya pegangan.
Apakah MI juga ada di produk untuk ibu yang sering menggendong bayi? Bisa. Losion, sabun cuci tangan, atau pelembut pakaian yang dipakai orang tua ikut menyentuh kulit bayi saat menggendong. Kalau anak terbukti alergi, periksa juga produk yang dipakai orang dewasa di rumah.
Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Sumber: Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik, Lampiran bahan pengawet; Chang MW, Nakrani R., "Six Children With Allergic Contact Dermatitis to Methylisothiazolinone in Wet Wipes (Baby Wipes)", Pediatrics (2014); Schlichte MJ, Katta R., "Methylisothiazolinone: An Emergent Allergen in Common Pediatric Skin Care Products", Dermatology Research and Practice (2014); Madsen JT, Andersen KE., "Airborne allergic contact dermatitis caused by methylisothiazolinone in a child sensitized from wet wipes", Contact Dermatitis (2014); Commission Regulation (EU) 2016/1198 dan (EU) 2017/1224; ASEAN Cosmetic Directive Annex VI.



