Anak Digigit Tikus: Pertolongan Pertama dan Tanda Bahayanya
Pada 2014, Pan African Medical Journal melaporkan kasus bayi berusia 13 hari yang digigit tikus di wajah. Bayi itu baru selesai menyusu dan ditinggal sebentar di tempat tidur berkelambu saat ibunya berada di luar. Keluarganya tinggal di satu kamar sewaan, dan tikus bebas keluar masuk rumah. Lukanya mengenai kelopak mata, hidung, pipi, dan kornea.
Kasus separah itu jarang terjadi, tetapi polanya sudah lama tercatat. Studi di jurnal Pediatrics pada 1999 mengumpulkan 622 kasus gigitan tikus dari 1974 sampai 1996. Korbannya terutama anak berusia 5 tahun ke bawah. Sebagian besar gigitan mengenai wajah dan tangan, terjadi di kamar tidur, antara tengah malam dan pukul 8 pagi. Angka nasional untuk Indonesia belum kami temukan, jadi data ini perlu dibaca sebagai gambaran dari negara lain.
1. Lima Langkah Pertama di Rumah
Langkah awalnya sederhana, mengikuti panduan American Academy of Pediatrics (AAP) untuk gigitan hewan dan KidsHealth untuk gigitan hewan pengerat:
- Hentikan perdarahan. Tekan luka dengan kain bersih selama 5 menit atau sampai darah berhenti.
- Cuci perlahan dengan sabun dan air mengalir, lalu tepuk kering.
- Tutup luka dengan kasa atau plester yang tidak lengket.
- Hubungi atau datangi dokter di hari yang sama. AAP meminta orang tua menghubungi dokter anak untuk setiap gigitan yang menembus kulit, sekecil apa pun lukanya.
- Catat tanggal dan jamnya. Catatan ini akan berguna bila anak demam beberapa minggu kemudian.
Pilihan antiseptik untuk kulit bayi kami bahas di artikel antiseptik untuk luka kecil. Kopi bubuk, pasta gigi, dan minyak sebaiknya tidak dioles, karena tidak membersihkan luka dan menyulitkan dokter menilainya.
Kadang orang tua hanya menemukan luka saat bayi bangun, tanpa melihat hewannya. Sampaikan itu kepada dokter apa adanya. Luka yang menembus kulit berbeda dari bentol gatal akibat pinjal atau kutu busuk, yang biasanya muncul berderet tanpa perdarahan.
2. Yang Akan Diputuskan Dokter
Tetanus. Dokter akan menanyakan riwayat imunisasi, jadi bawa buku KIA anak. Laporan kasus tadi menyebut perlindungan tetanus sebagai langkah wajib pada gigitan tikus.
Antibiotik. Bukti untuk antibiotik pencegahan pada gigitan tikus masih terbatas. Satu studi kecil pada 50 pasien yang dikutip laporan tersebut mencatat infeksi luka hanya pada 2 persen pasien. Namun AAP menyebut antibiotik dapat dianjurkan untuk luka tusuk, gigitan sedang sampai berat, dan gigitan di wajah, tangan, kaki, atau area kelamin. Pada bayi, keputusan ini sebaiknya diserahkan kepada dokter. Jangan memakai sisa antibiotik yang ada di rumah.
Rabies. Menurut KidsHealth, hewan pengerat umumnya tidak membawa rabies, sehingga penularan lewat gigitannya jarang terjadi. Dokter tetap yang menentukan perlu tidaknya vaksin, kadang setelah berkonsultasi dengan dinas kesehatan setempat. Gigitan anjing dan cakaran kucing punya aturan berbeda, dan sudah kami bahas di artikel khusus.
3. Demam yang Muncul Setelah Lukanya Sembuh
Risiko yang mudah terlewat adalah demam gigitan tikus (rat-bite fever), infeksi bakteri yang jarang terjadi. Bakterinya hidup di tubuh tikus, mencit, dan hewan pengerat lain. CDC mencatat hewan yang membawa bakteri ini tampak sehat, jadi kondisinya tidak bisa dinilai dari penampilan.
Ada dua jenis utama menurut MSD Manual:
- Spirillum minus, atau sodoku, terutama ditemukan di Asia. Gejalanya muncul dalam beberapa hari sampai sekitar 4 minggu. Lukanya mula-mula cepat sembuh, lalu kembali merah dan bengkak. Demamnya datang dan pergi, disertai pembengkakan kelenjar getah bening dan kadang ruam.
- Streptobacillus moniliformis terutama ditemukan di Amerika Serikat. Menurut CDC, gejala biasanya muncul 3 sampai 10 hari setelah kontak dan bisa sampai 21 hari, berupa demam, muntah, sakit kepala, dan nyeri otot. Sekitar 3 dari 4 pasien mengalami ruam, sering di tangan dan kaki, dan sekitar separuhnya mengalami nyeri atau bengkak sendi.
Jarak waktu inilah yang membuat infeksinya sulit dikenali. Saat anak demam, bekas gigitannya mungkin sudah menutup, dan orang tua tidak lagi menghubungkan keduanya. Karena itu, pantau anak selama sekitar 4 minggu setelah gigitan.
Antibiotik yang tepat dapat menyembuhkan infeksi ini bila dimulai sejak awal, dan menurut KidsHealth anak biasanya cepat pulih. Tanpa pengobatan, sekitar 10 persen pasien meninggal menurut MSD Manual. CDC juga mengingatkan bakteri ini kebal terhadap banyak antibiotik yang umum dipakai, sehingga dokter perlu tahu riwayat kontak dengan tikus. Ucapkan kalimat "anak saya digigit tikus tanggal sekian" di awal pemeriksaan, walaupun lukanya sudah tidak terlihat.
4. Kapan Harus ke Dokter atau IGD
Bawa anak ke dokter dalam 24 jam bila:
- Nyeri pada luka bertahan lebih dari 24 jam.
- Luka terasa hangat, makin bengkak dan merah, atau bernanah.
- Suhu tubuh mencapai 38°C atau lebih.
Bawa langsung ke IGD bila:
- Muncul garis merah yang menjalar dari luka.
- Gigitan di tangan membuat jari mati rasa atau sulit digerakkan.
- Beberapa hari atau minggu kemudian muncul demam, menggigil, nyeri otot atau sendi, ruam, muntah, diare, sakit perut, atau sakit kepala.
- Luka mengenai mata atau kelopak mata.
- Bayi berusia di bawah 3 bulan demam.
Untuk meredakan nyeri, KidsHealth menyarankan kompres dingin berbalut handuk selama 15 menit, setiap 1 sampai 2 jam, selama 2 hari. Parasetamol dapat dipakai sesuai dosis dari dokter. Ibuprofen tidak diberikan pada bayi di bawah 6 bulan, dan aspirin tidak diberikan pada anak.
5. Air Kencing Tikus dan Leptospirosis
Penyakit lain yang dibawa tikus menular lewat air kencing, tanpa perlu gigitan. CDC menjelaskan bakteri Leptospira dapat bertahan di air atau tanah selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan, terutama setelah banjir dan hujan lebat. Gejalanya muncul 2 sampai 30 hari setelah paparan, antara lain demam, nyeri otot, mata merah, dan kulit menguning. Tutup luka anak dengan plester tahan air sebelum ia bermain di area yang tergenang.
Bersihkan kotoran tikus saat anak berada di ruangan lain. CDC meminta kotoran dan sarang tikus tidak disapu atau disedot dengan vacuum, karena partikelnya bisa terbang ke udara. Caranya, pakai sarung tangan, siram sampai basah dengan disinfektan atau campuran 1 bagian pemutih dan 9 bagian air, tunggu 5 menit, lalu lap dengan tisu dan buang ke tempat sampah tertutup.
6. Mencegah Tikus Sampai ke Tempat Tidur Bayi
Sebagian besar langkah pencegahan berkaitan dengan makanan dan celah rumah:
- Tutup lubang. CDC mencatat mencit bisa masuk lewat lubang selebar pensil, sekitar 6 mm. Sumbat lubang kecil dengan sabut baja lalu kunci dengan sealant atau busa semprot. Periksa area sekitar pipa bawah wastafel, belakang kabinet dapur, dan pertemuan lantai dengan dinding.
- Simpan makanan rapat. Pakai wadah tebal bertutup, termasuk untuk stok MPASI dan makanan hewan peliharaan. Bersihkan tumpahan dan cuci piring serta botol susu segera setelah dipakai.
- Tutup tempat sampah dan kosongkan secara rutin.
- Pilih perangkap jepit. Taruh rapat ke dinding, di tempat yang tidak terjangkau anak. CDC tidak menganjurkan lem tikus dan perangkap hidup, karena tikus yang panik bisa buang air kecil dan menambah risiko penularan. Racun tikus juga berbahaya bagi anak dan hewan peliharaan, jadi gunakan sesuai label dan hanya bila perangkap tidak cukup.
Dua kebiasaan lain belum diuji dalam studi, tetapi murah dan mudah dilakukan. Lap sisa makanan dan susu di tangan dan wajah bayi sebelum tidur. Geser boks atau kasur bayi agar tidak menempel ke dinding, karena tikus cenderung berlari menyusuri dinding.
7. Bila Hewannya Peliharaan Sendiri
Hamster, marmut, dan gerbil termasuk hewan pengerat. CDC menyebut demam gigitan tikus juga bisa menular lewat cakaran, air liur, serta alas kandang yang tercemar, termasuk saat mencium hewan peliharaan. Anak balita sebaiknya bermain dengan pengawasan dan mencuci tangan sampai bersih setelahnya. KidsHealth menyarankan hewan tidak diganggu saat makan, tidur, atau mengurus anaknya. Gigitan dari hewan peliharaan tetap dirawat dengan langkah yang sama seperti di atas.
Sumber rujukan: American Academy of Pediatrics: Treatment for Animal Bites, KidsHealth: After a Rodent Bite, CDC: Rat-Bite Fever, MSD Manual: Demam Gigitan Tikus, Hirschhorn dan Hodge, Pediatrics 1999;104(3):e35, Ibraheem dkk., Pan African Medical Journal 2014;17:311, CDC: Leptospirosis, CDC: How to Clean Up After Rodents, CDC: How to Seal Up to Prevent Rodents, CDC: How to Trap Up.
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti pemeriksaan dokter.




