7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care8 menit2026-09-25

Ektima pada Anak: Borok di Kaki Setelah Gigitan Nyamuk Digaruk

Keropeng tebal dengan luka berlubang di bawahnya bisa jadi ektima, impetigo yang lebih dalam. Kenali cirinya, kapan perlu antibiotik, dan tanda bahayanya.

Ektima pada Anak: Borok di Kaki Setelah Gigitan Nyamuk Digaruk, Beda dengan Impetigo

Awalnya cuma bentol gigitan nyamuk di tulang kering. Anak menggaruknya sampai lecet, lalu muncul bintik bernanah kecil di atasnya. Seminggu kemudian bintik itu tertutup keropeng tebal warna cokelat kehitaman. Keropengnya copot saat mandi, dan di bawahnya ada lubang merah yang basah.

Banyak orang tua menyebutnya borok atau koreng yang "tidak mau kering". Ada yang menambal dengan bubuk antiseptik dari lemari obat, ada yang menunggu sampai keropengnya lepas sendiri. Nama medisnya ektima (ecthyma), dan orang tua wajib tahu bedanya dengan koreng biasa, karena cara penanganannya memang berbeda.

Impetigo yang Masuk Lebih Dalam

DermNet, basis data dermatologi yang dikelola dokter kulit di Selandia Baru, menggambarkan ektima sebagai bentuk impetigo yang lebih dalam. Penyebabnya bakteri yang sama: Streptococcus pyogenes dan Staphylococcus aureus.

Perbedaannya ada di kedalaman. Impetigo berhenti di epidermis, lapisan kulit paling luar, sehingga biasanya sembuh tanpa bekas. MSD Manual menulis bahwa ektima menembus epidermis sampai ke dermis, lapisan di bawahnya yang berisi pembuluh darah dan jaringan ikat. Karena dermis ikut rusak, ektima meninggalkan bekas luka.

Penjelasan lengkap soal impetigo biasa ada di artikel impetigo pada bayi. Kira-kira begini gampangnya: impetigo adalah lecet yang bernanah di permukaan, ektima adalah lubang kecil yang bernanah di bawah keropeng.

Ciri yang Bisa Dilihat di Rumah

Ektima berjalan dalam beberapa tahap. Menurut DermNet, awalnya berupa lepuh kecil atau bintik bernanah di atas kulit yang merah. Setelah itu terbentuk keropeng keras. Kalau keropengnya terangkat, di bawahnya terlihat luka yang agak keras saat diraba, merah, bengkak, dan bisa mengeluarkan nanah.

Beberapa ciri yang membedakannya dari lecet biasa:

  • Ukuran. DermNet mencatat diameter lukanya sekitar 0,5 sampai 3 cm.
  • Keropeng. MSD Manual menyebut keropengnya tebal, warna cokelat sampai hitam, dengan kulit kemerahan di sekelilingnya.
  • Bentuk luka. Setelah keropeng lepas, lukanya seperti dilubangi, dengan dasar yang cekung.
  • Lokasi. Paling sering di tungkai bawah. DermNet menyebut bokong, paha, betis, pergelangan kaki, dan telapak kaki.
  • Lama. Luka tidak mengecil dalam hitungan hari seperti lecet jatuh dari sepeda.

Jumlahnya biasanya sedikit, satu sampai beberapa luka saja. Kelenjar getah bening di lipat paha kadang ikut membesar dan terasa nyeri saat ditekan.

Kenapa Kaki Anak Jadi Sasaran

Bakteri penyebab ektima perlu pintu masuk. Kulit yang utuh cukup kuat menahannya, sehingga infeksi biasanya dimulai dari luka kecil yang sering dianggap sepele.

DermNet menyebut beberapa faktor risiko: iklim panas dan lembap, lingkungan yang padat, kebersihan yang kurang, luka kecil seperti goresan dan gigitan serangga, serta impetigo yang tidak diobati. Hampir semuanya dekat dengan keseharian anak di Indonesia.

Kaki anak paling sering terbuka. Celana pendek, sandal, main di tanah, dan nyamuk yang aktif sore hari membuat tungkai penuh bentol. Bentol yang gatal digaruk dengan kuku yang habis dipakai main pasir, dan lecet itulah yang menjadi jalan masuk bakteri.

Pada anak dengan eksim, risikonya lebih besar karena skin barrier-nya sudah lemah dan kulitnya sering digaruk. Anak yang punya bentol gigitan serangga yang sangat gatal dan berulang, seperti pada prurigo strophulus, juga lebih sering berakhir dengan luka garukan yang terinfeksi.

Beban penyakit kulit akibat bakteri ini memang paling berat di daerah tropis. Sebuah penelitian di jurnal mBio tahun 2021 menyebut luka kulit bernanah di tungkai dialami 5 sampai 15 persen anak di sejumlah negara tropis di Pasifik Selatan dan Afrika. Para peneliti mengambil usap dari 279 luka anak di Pulau Lihir, Papua Nugini, tetangga dekat Papua. Pada luka yang penyebabnya belum jelas, S. pyogenes menjadi organisme yang paling banyak ditemukan.

Kapan Cukup Salep, Kapan Perlu Obat Minum

Orang tua terbiasa mengoles salep antibiotik untuk impetigo yang kecil, lalu mengira ektima bisa ditangani dengan cara yang sama.

MSD Manual menulis bahwa ektima perlu antibiotik minum. Contoh yang disebut di sana antara lain dicloxacillin atau cephalexin selama 7 hari. DermNet memberi gambaran yang sedikit berbeda: salep antibiotik seperti asam fusidat atau mupirocin dipakai tiga kali sehari, sedangkan antibiotik minum golongan penisilin untuk kasus yang lebih luas, dan pengobatannya bisa berlangsung beberapa minggu.

Jenis, dosis, dan lamanya ditentukan dokter setelah melihat lukanya, termasuk apakah perlu diambil sampel nanah untuk dibiakkan di laboratorium. MSD Manual menyebut pemeriksaan ini, berupa pewarnaan Gram dan kultur dengan uji kepekaan antibiotik, sebagai bagian dari diagnosis.

Yang perlu dijaga di rumah:

  • Habiskan antibiotik sesuai resep, walaupun lukanya sudah tampak kering di hari ketiga atau keempat.
  • Jangan beli antibiotik sendiri di apotek dengan resep lama atau resep untuk kakaknya.
  • Jangan berhenti di bubuk antiseptik. Bubuk yang ditabur di atas luka basah justru bisa menggumpal dan ikut mengeras bersama keropeng.

Perawatan Luka Selama Pengobatan

MSD Manual menyarankan area luka dicuci pelan dengan sabun dan air beberapa kali sehari untuk membersihkan keropeng. Kata kuncinya pelan. Keropeng yang sudah lunak karena air boleh diangkat dengan kasa bersih, tapi jangan dikorek atau dicungkil dengan kuku.

Setelah dicuci, tepuk-tepuk kering dengan handuk bersih yang hanya dipakai untuk anak itu. Pakai salep dari dokter kalau diresepkan, lalu tutup dengan kasa agar anak tidak menggaruk dan bakteri tidak berpindah ke kulit lain.

Beberapa kebiasaan kecil yang membantu biar nggak menular ke saudara di rumah:

  • Potong kuku anak pendek dan rata
  • Cuci tangan anak dan tangan orang tua setelah menyentuh luka
  • Pisahkan handuk, dan cuci sprei serta baju yang terkena cairan luka dengan air panas bila memungkinkan
  • Tunda berenang di kolam umum sampai lukanya tertutup kulit baru

Kulit di sekitar luka tetap perlu dirawat. Kulit tungkai yang kering dan pecah-pecah lebih mudah tergores lagi. Pelembap tanpa pewangi boleh dioleskan pada kulit utuh di sekitarnya, tapi jangan ke luka yang masih terbuka.

Tanda Luka Tidak Membaik

Ektima memang lambat pulih. DermNet menyebut luka ini sembuh perlahan dan meninggalkan bekas. Meski begitu, ada tanda-tanda yang menunjukkan infeksi menyebar dan anak perlu diperiksa lagi hari itu juga:

  • Kemerahan di sekitar luka makin lebar, terasa hangat, dan kakinya bengkak
  • Muncul garis merah yang menjalar dari luka ke arah lipat paha
  • Anak demam, lemas, atau tidak mau berjalan karena sakit
  • Luka makin dalam, menghitam, atau berbau busuk

DermNet mencatat komplikasi ektima termasuk selulitis, erisipelas, radang saluran getah bening (limfangitis), dan pada kasus yang jarang, gangren. Cara menandai batas kemerahan untuk memantau selulitis dijelaskan di artikel selulitis pada anak.

Air Kencing yang Perlu Dilihat Beberapa Minggu Kemudian

Ada satu komplikasi yang munculnya belakangan, saat lukanya mungkin sudah dilupakan: glomerulonefritis pasca-streptokokus, yaitu radang pada saringan ginjal. DermNet menyebutnya komplikasi yang jarang. MSD Manual mencatat anak usia 2 sampai 4 tahun yang terinfeksi galur streptokokus tertentu termasuk kelompok berisiko.

MSD Manual juga menulis bahwa pengobatan antibiotik kemungkinan tidak mencegah komplikasi ginjal ini. Artinya, anak yang sudah minum antibiotik sampai habis tetap perlu diperhatikan.

Tanda yang perlu dibawa ke dokter: air kencing berwarna seperti teh pekat atau cola, bengkak di kelopak mata saat bangun pagi, kaki bengkak, dan jumlah kencing yang berkurang.

Jangan Tertukar dengan Ektima Gangrenosum

Kalau orang tua mencari istilah ektima di internet, nama ektima gangrenosum akan ikut muncul, lengkap dengan foto luka hitam yang menyeramkan. Keduanya kondisi yang berbeda.

Ektima gangrenosum umumnya disebabkan bakteri Pseudomonas aeruginosa dan terjadi pada orang dengan daya tahan tubuh yang sangat lemah, misalnya pasien kanker yang sedang kemoterapi. Anak sehat dengan borok di tulang kering akibat gigitan nyamuk yang digaruk hampir selalu mengalami ektima biasa, bukan versi ini.

Pengecualiannya: anak dengan penyakit yang menurunkan daya tahan tubuh, atau yang sedang menjalani pengobatan penekan imun, perlu segera diperiksa bila muncul luka yang cepat menghitam.

Bekas yang Tertinggal

Karena dermis ikut rusak, bekas ektima biasanya berupa cekungan kecil atau bercak yang lebih gelap dari kulit sekitarnya. Pada kulit sawo matang, bercak gelap ini bisa bertahan berbulan-bulan sebelum memudar. Prosesnya mirip dengan yang dibahas di artikel bekas gigitan nyamuk menghitam.

Pada anak yang punya bakat keloid, bekas luka justru bisa menonjol. Kalau bekasnya terus membesar melewati batas luka aslinya, baca artikel keloid pada anak dan konsultasikan ke dokter kulit.

Yang bisa dilakukan selama bekas memudar: lindungi dari matahari dengan celana panjang tipis atau tabir surya untuk anak di atas 6 bulan, dan jaga kulit tetap lembap. Krim pemutih atau pencerah dari toko online tanpa nomor BPOM sebaiknya dihindari, apalagi untuk kulit anak.

Mencegah dari Bentol Pertama

Ektima hampir selalu berawal dari luka kecil yang digaruk. Pencegahannya dimulai dari situ:

  • Kurangi gigitan nyamuk dengan kelambu dan pakaian yang menutup kaki di sore hari. Pilihan repelan sesuai usia ada di artikel gigitan nyamuk pada bayi.
  • Kompres dingin bentol yang gatal agar anak tidak menggaruk.
  • Cuci goresan dan lecet dengan air mengalir dan sabun sesegera mungkin setelah anak selesai bermain.
  • Periksa kaki anak saat mandi sore. Bintik bernanah kecil di atas bekas gigitan lebih mudah ditangani sebelum menjadi keropeng tebal.

Satu patokan sederhana yang bisa dipegang: lecet biasa pada anak yang sehat umumnya terlihat membaik dalam beberapa hari. Keropeng tebal yang di bawahnya berlubang dan bernanah, apalagi yang bertambah jumlahnya, sudah waktunya dilihat dokter.


Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh dokter. Luka bernanah yang tidak membaik, disertai demam, atau muncul pada anak dengan daya tahan tubuh lemah perlu diperiksa tenaga kesehatan.

Sumber:

  • DermNet. Ecthyma. dermnetnz.org/topics/ecthyma
  • MSD Manual Professional Version. Impetigo and Ecthyma.
  • Griesenauer B, dkk. Streptococcus pyogenes Is Associated with Idiopathic Cutaneous Ulcers in Children on a Yaws-Endemic Island. mBio, 2021.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait