Luka Bakar Kembang Api dan Petasan pada Anak: Sparkler, Tangan, Mata, dan Pertolongan Pertama
Setiap akhir tahun, laporan cedera akibat kembang api muncul hampir bersamaan di ruang gawat darurat berbagai negara. Dalam laporan tahunan Consumer Product Safety Commission (CPSC) Amerika Serikat, tangan dan jari, kepala dan wajah, serta mata konsisten menjadi bagian tubuh yang paling sering terluka, dan anak-anak selalu masuk kelompok korban yang besar.
Di Indonesia, sumber risikonya ikut meluas: petasan rakitan, mercon banting, kembang api botol, hingga kembang api tangan yang dijual bebas menjelang pergantian tahun. Artikel ini merinci jenis cedera yang paling sering terjadi, apa yang perlu dilakukan dalam menit pertama, dan tanda yang berarti anak harus segera ke rumah sakit.
Kembang Api Tangan Bukan Mainan Ringan
Kembang api tangan (sparkler) sering dianggap versi aman karena tidak meledak. Anggapan itu keliru. Ujung batang yang menyala dapat mencapai suhu di atas 1.000 derajat Celsius, jauh melampaui titik didih air dan cukup panas untuk melelehkan beberapa jenis logam. Pada kulit anak yang lebih tipis, kontak sesaat sudah cukup menimbulkan luka bakar yang dalam.
Pola cederanya khas:
- Bara atau percikan jatuh ke telapak tangan atau punggung tangan anak yang memegang batang.
- Anak kecil menyentuh ujung yang masih membara setelah api tampak padam. Batang tetap sangat panas beberapa menit sesudahnya.
- Pakaian sintetis menyala atau meleleh menempel ke kulit.
- Percikan mengenai wajah ketika anak mengayunkan batang ke arah teman.
Banyak lembaga kesehatan anak, termasuk American Academy of Pediatrics, menyarankan agar anak balita tidak diberi sparkler sama sekali.
Petasan: Cedera Ledakan, Bukan Sekadar Luka Bakar
Petasan bekerja berbeda. Ledakan menghasilkan panas, tekanan, dan serpihan sekaligus, sehingga satu kejadian dapat menimbulkan beberapa jenis cedera:
- Luka bakar dan jelaga. Serbuk mesiu yang menempel dapat tertanam di lapisan kulit dan meninggalkan bintik gelap menyerupai tato. Bintik ini tidak hilang dengan digosok dan perlu dibersihkan tenaga medis.
- Cedera jari dan tangan. Petasan yang meledak di genggaman bisa merusak jaringan, tulang, dan saraf jari. Pada kasus berat, jari tidak dapat diselamatkan.
- Cedera mata. Percikan atau serpihan dapat melukai kornea dan bagian dalam bola mata. Kerusakannya tidak selalu terlihat dari luar.
- Gangguan pendengaran. Dentuman keras dari jarak dekat dapat menimbulkan dengung di telinga atau penurunan pendengaran mendadak.
Petasan rakitan memiliki risiko paling tinggi karena takaran bahan dan kualitas selongsongnya tidak terkendali.
Menit Pertama: Yang Perlu Dilakukan
Untuk luka bakar di kulit, langkah yang direkomendasikan pedoman pertolongan pertama luka bakar adalah:
- Jauhkan anak dari sumber api. Jika pakaian menyala, hentikan anak, baringkan, dan padamkan dengan kain tebal atau gulingkan perlahan.
- Alirkan air bersuhu ruang (bukan es) ke area luka selama sekitar 20 menit. Pendinginan segera mengurangi kedalaman luka.
- Lepaskan cincin, gelang, jam, dan pakaian yang tidak menempel sebelum jaringan membengkak. Pakaian yang lengket ke kulit dibiarkan.
- Tutup longgar dengan kain bersih atau kasa non-lengket.
- Jangan memecahkan lepuh. Kulit lepuh melindungi luka dari kuman.
- Jangan oleskan pasta gigi, mentega, minyak, kecap, putih telur, atau es. Bahan-bahan itu memperlambat pendinginan dan menambah risiko infeksi.
Untuk percikan atau serpihan ke mata, aturannya berbeda: jangan digosok, jangan ditekan, dan jangan mencabut benda yang menancap. Tutup mata dengan pelindung keras seperti gelas kertas yang dilubangi atau cangkir plastik yang ditempel di sekitar tulang mata tanpa menekan bola mata, lalu bawa anak ke unit gawat darurat. Membilas dengan air mengalir hanya tepat bila penyebabnya bahan kimia, bukan benda tajam atau tertancap.
Kapan Harus Langsung ke Rumah Sakit
Anak perlu dibawa ke fasilitas kesehatan tanpa menunggu bila ada salah satu tanda berikut:
- Luka bakar di wajah, tangan, kaki, area kelamin, atau melingkari satu anggota gerak.
- Luka lebih lebar dari telapak tangan anak, atau kulit tampak putih, cokelat, dan hitam arang.
- Lepuh besar atau luka yang tidak terasa nyeri di bagian tengahnya.
- Cedera mata sekecil apa pun, termasuk mata merah, nyeri, atau penglihatan buram setelah terkena percikan.
- Jari atau bagian tangan terluka akibat ledakan, bengkak, atau sulit digerakkan.
- Dengung di telinga atau anak tampak tidak mendengar setelah dentuman.
- Luka kotor dan anak belum lengkap imunisasi tetanus.
Dalam beberapa hari berikutnya, perhatikan tanda infeksi: kemerahan yang melebar, cairan keruh atau bau, bengkak bertambah, dan demam.
Mencegah Lebih Mudah daripada Mengobati
Rekomendasi yang berulang dari lembaga keselamatan produk dan dokter anak sederhana:
- Hindari petasan dan kembang api yang tidak berlabel jelas, terutama yang dirakit sendiri.
- Anak tidak memegang atau menyalakan kembang api. Penyalaan dilakukan orang dewasa dengan jarak aman.
- Sediakan seember air atau selang di dekat lokasi, dan rendam batang bekas sebelum dibuang.
- Penonton berdiri jauh, tidak menunduk ke atas kembang api yang belum menyala, dan tidak mencoba menyalakan ulang yang gagal.
- Pakaian anak dari bahan katun, tanpa ujung kain menjuntai.
Perawatan kulit setelah luka bakar ringan yang sembuh juga perlu perhatian. Kulit baru lebih tipis dan peka terhadap matahari, jadi lindungi area itu dengan pakaian atau tabir surya yang lembut selama berbulan-bulan sambil dipantau dokter bila luka cukup luas.
Informasi dalam artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter. Luka akibat ledakan dan cedera mata selalu membutuhkan penilaian tenaga medis.




